Apr '05
12

Teknologi, Mempermudah atau Menjebak?

Files under Buku | Leave a Comment

Judul asli : High Tech High Touch : Technology and Our Search for Meaning
Judul terjemahan : High Tech High Touch : Pencarian Makna di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi
Penulis : John Naisbitt, Nana Naisbitt, dan Douglas Philips
Penerbit : Mizan, Bandung. 2001

Menurut Naisbitt, kita kini hidup dalam keadaan yang disebut Zona Mabuk Teknologi. Secara tidak sadar kita telah memuja suatu benda yang bernama teknologi. Kita lebih suka menyelesaikan permasalahan secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi.

Cara kita hidup senantiasa berubah selama ratusan tahun terakhir ini, dan berubah drastis dalam sepuluh tahun terakhir. Pada jaman dahulu kehidupan manusia sangat bergantung pada alam. Orang bangun pagi saat matahari terbit dan tidur saat matahari terbenam. Panjang hari lebih didasarkan pada cahaya daripada jam, dan panjang tahun lebih didasarkan pada musim daripada kalender. Waktu ditetapkan oleh pasang surut air laut, siklus rembulan, musim, bintang, bayang-bayang, tanaman.

Namun kesadaran semacam itu hilang saat kita mengenal teknologi. Teknologi konsumen menjanjikan penghematan waktu dan tenaga kerja, membebaskan kita untuk melakukan kegiatan yang benar-benar penting, dan hanya sedikit orang yang menolak pendapat bahwa teknologi telah membuat hidup kita lebih mudah selama satu abad terakhir ini.

Dapat kita rasakan betapa sulitnya kita hidup tanpa teknologi. Bahkan anak-anak kita yang masih kecil pun sudah kita perkenalkan dengan teknologi. Anak-anak mulai keranjingan dengan video game dan nintendo, di mana tidak sering kita jumpai adegan kekerasan di dalamnya. Bahkan beberapa tindak kejahatan yang dilakukan anak-anak dikarenakan mereka terpengaruh oleh game yang mereka mainkan.

Bagian kedua buku ini mengajak kita memahami teknologi genetika yang telah bangkit, seperti rekayasa sel benih, kloning, rekayasa transgenik, rekayasa biologi, serta janji yang mereka usung, masalah sosial, medis, dan etis yang ditimbulkannya.

Dalam buku ini Naisbitt mengingatkan kita cara memaksimalkan manfaat teknologi sambil meminimalkan efeknya yang merusak kebudayaan kita. Karena sesuai tujuannya, buku ini ingin membantu kita dalam menemukan makna di tengah kepesatan perkembangan teknologi.


Artikel terkait:
Apr '05
11

Drama Pembajakan dalam Tragedi 11 September 2001

Files under Buku | Leave a Comment

Judul asli : The Real Truth 9-11
Judul terjemahan : Fakta Sebenarnya Tragedi 11 September
Penulis : Jerry D. Gray
Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta. 2004

Buku ini berisi bukti-bukti dan analisis Jerry D. Gray tentang peristiwa tragedi 11 September 2001, yaitu runtuhnya menara WTC di New York dan rusaknya kantor Departemen Pertahanan Amerika Serikat, atau yang lebih dikenal dengan Pentagon akibat ditabrak pesawat.

Selama 3 tahun Pemerintah Amerika Serikat, khususnya Goerge Walker Bush menuduh Al-Qaidah sebagai organisasi teroris yang melakukan serangan terhadap menara WTC dan Pentagon, serta Osama bin Laden sebagai otak dari kejahatan ini.

Jerry D. Gray -seorang jurnalis yang pernah bergabung di Angkatan Udara Amerika Serkat- menemukan ketidakberesan dari pernyataan yang disampaikan Pemerintah AS dengan temuan para ahli. Melalui buku inilah, Jerry membeberkan bukti-bukti yang ditemukannya, termasuk foto-foto yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan oleh Pemerintah AS, disertai analisisnya yang tajam.

Ditegaskan bahwa serangan ini tidak mungkin dilakukan oleh jaringan teroris yang -menurut pernyataan Pemerintah AS- hanya bersenjatakan pisau karton dan dengan kemampuan mengemudikan pesawat yang buruk. Sedangkan pesawat yang dibajak telah dilengkapi dengan fasilitas yang canggih dan pilot-pilot yang tangguh. Begitu juga tidak mungkin gedung Pentagon yang selalu dilindungi sistem keamanan yang canggih dapat ditorobos oleh lawan.

Menara WTC dan gedung Pentagon terletak di kawasan yang selalu dilindungi secara ketat oleh Pemerintah AS. Setiap ada pesawat yang melintasi daerah tersebut, maka jet-jet tempur Amerika spontan akan segera melakukan penyergapan dan penyelidikan. Namun dalam peristiwa ini tak satu pun jet-jet tempur yang bereaksi. Seolah-olah ada yang memberikan perintah kepada mereka untuk tetap tinggal di tempat.

Runtuhnya menara WTC merupakan suatu kejanggalan. Seharusnya menara yang ditabrak pesawat akan runtuh seperti pohon tumbang. Namun ternyata menara tersebut runtuh ke bawah, persis seperti menara yang sengaja diruntuhkan, dengan runtuh ke bawah makan kerugian dapat diminimalisasi.

Begitu pula dengan gedung Pentagon, anehnya tidak ditemukannya puing-puing pesawat di lokasi tabrakan. Puing-puing pesawat akan mudah diidentifikasi meskipun telah terbakar, namun petugas pemadam kebakaran di sini sama sekali tidak menemukannya.

Anehnya lagi, CNN berhasil mendokumentasikan peristiwa tabrakan di kedua menara WTC secara langsung. Seolah-olah mereka telah diberi tahu terlebih dahulu bahwa akan terjadi tabrakan pada jam itu.

Menurut Jerry, tindakan sejenis ini hanya mampu dilakukan oleh teroris negara. Hanya teroris negara yang mempunyai kapabilitas untuk melakukan teror yang didukung oleh fasilitas negara, berupa dukungan anggaran yang besar, didukung oleh organisasi intelijen dan menggunakan mesin propaganda resmi (pemerintah).

Dalam buku inilah, Jerry menuliskan bukti-bukti dan analisisnya, dengan bahasa yang argumentatif tentang ketidakberesan peristiwa ini. Jerry pun menyerahkan kepada kita apa kesimpulan yang kita ambil setelah membaca buku tentang ‘drama pembajakan’ ini.


Artikel terkait: