rita.dzikr.com

16 May 2008

Alhamdulillah…

Alhamdulillah… setelah hampir 9 bulan ini menjalani masa pengobatan intensif, aku dinyatakan sembuh!

Bagi yang telah mengenalku lebih lama, tentu masih ingat bulan Juli tahun 2007 kemarin (hari-hari menjelang wisudaku), aku menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Kalau belum tahu, silakan baca cerita bersambung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10) ini :D

Episode itu sebenarnya belum berakhir…

Setelah cairan di paru-paruku diperiksa, hasilnya… aku dinyatakan positif mengidap penyakit tuberculosis (untuk selanjutnya disingkat TB).

Sebuah ujian yang cukup berat kuterima (waktu itu).

Tapi aku bersyukur… karena dilahirkan di jaman modern, di mana sudah tersedia obat-obat dan peralatan medis canggih untuk mengobati penyakitku. Berbeda dengan jaman dahulu, orang terkena TB itu harus diasingkan, dan kata seorang dokter “jaman dahulu orang kena TB pasti akhirnya mati” (maksudnya mati disebabkan penyakit tersebut). Kata-kata dokter tersebutlah yang membuatku bersemangat, bahwa aku harus sembuh, malu ah masak aku mati karena terserang TB.

TB adalah penyebab kematian orang tertinggi ketiga di dunia, setelah penyakit jantung dan kanker.

Tapi aku bersyukur… penyakit ini hanya menyerang paru-paruku. Sedangkan ada orang di luar sana yang menderita TB tulang, TB darah, TB otak, dan sebagainya. Mycobacterium tuberculosis memang bisa tinggal di bagian tubuh mana saja. Dan penyakit TB paru merupakan penyakit paling ringan dibanding TB-TB lainnya.

Untuk sembuh dari penyakit TB, penderita harus menjalani pengobatan intensif selama minimal 6 bulan. Selama itu, pengobatan tidak boleh terputus. Satu hari saja lupa minum obat, akan menyebabkan virus tersebut kebal, dan pengobatan harus diulang dengan dosis ditingkatkan. Jika setelah menjalani pengobatan tersebut, ternyata penderita tidak mengalami perkembangan ke arah lebih baik, maka dilanjutkan ke pengobatan berikutnya, yaitu pemberian injeksi (suntikan) setiap hari selama 3 bulan tanpa putus. Jika pengobatan tersebut gagal juga, maka penderita tersebut dinyatakan tidak dapat disembuhkan, dan untuk memperpanjang umurnya ia harus minum obat setiap hari selama hidupnya!

Ngeri ya? Aku juga merasa ngeri ketika mengetahui penyakit yang aku derita merupakan penyakit kronis.

Tapi aku bersyukur… meski aku mengidap TB, aku tidak merasa seperti orang sakit. Seorang temanku mantan penderita TB pernah bercerita bahwa pada saat sakit, ia sering mengalami batuk darah. Sedangkan aku, batuk aja hampir tidak pernah, kecuali saat menjelang disedot dulu. Aku hanya sering merasakan… rasa sakit di dada di awal waktu.

Dan aku bertekad, aku harus sembuh!

Awalnya, aku sering mengeluh, kenapa harus aku yang menderita penyakit ini? Aku yang dulu paling susah menelan obat, kini dipaksa menelan 10 butir obat setiap hari. Aku yang dulu paling takut melihat jarum suntik, kini harus merelakan lenganku diambil darah setiap minggu. Kenapa harus aku?

Tapi aku menemukan jawabannya. Kenapa harus aku yang menderita semua ini? Karena aku percaya, Allah sedang menyiapkan tempat terbaik untukku. Bukankah jika seseorang menghadapi cobaan, maka ada dua kemungkinan: azab dari Allah atas dosa-dosanya atau Allah akan mengangkat derajatnya.

Maka, aku bertekad mulai saat itu tak ada keluhan. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapanku, maka kucoba untuk selalu tersenyum sambil berdoa, Ya Allah, jika sakitku ini merupakan azab atas dosa-dosaku di masa lalu, maka gugurkanlah dosa-dosaku. Ya Allah, jika sakitku ini merupakan kehendak-Mu yang ingin menaikkan derajatku, maka jadikan aku dalam golongan orang-orang yang sabar.

Aku sengaja menyembunyikan penyakitku ini pada teman-temanku, kecuali beberapa orang saja. Karena aku tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit. Aku ingin tetap berktivitas seperti biasa, seperti orang sehat pada umumnya.

Satu ujian lagi… awal masa pengobatan ini adalah saat aku sedang ta’arufan sama calon suami. Dan calon suamiku waktu itu berniat mengundur hari pernikahan sampai aku sembuh. Padahal aku ingin cepat menikah, biar ada orang yang merawat aku ketika sakit. Tapi kalau namanya sudah jodoh, kan tak ada orang yang bisa memajukan atau memundurkan, buktinya kami telah menikah 7 bulan sebelum aku sembuh :D

Masa pengobatanku memakan waktu selama hampir 9 bulan. Dua bulan pertama aku bagaikan kelinci percobaan. Bermacam-macam obat diberikan, tapi tubuhku selalu menolaknya. Inilah mengapa setiap minggu aku harus menjalani tes darah, tes darah itu untuk memeriksa kondisi hatiku. Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jumlah banyak setiap hari dapat memberikan efek buruk bagi hati. Aku bersyukur sekali, dokter yang menanganiku menyuruhku tes darah, karena ada dokter yang hanya memberikan resep obat tanpa memperhatikan dampak obat tersebut ke pasien.

Kini aku sudah sembuh, bukan penderita TB lagi, meski cacat di paru-paruku tak bisa hilang. Dulu aku pernah diceritakan temanku, kalau aku sembuh nanti, bekas luka di paru-paru tak kan hilang, ternyata benar. Ya, gpp lah. Emang siapa orang yang mau melihat foto thorax-ku? :)

Apakah ikhtiarku telah berakhir? Tentu ikhtiar tak pernah berakhir sepanjang hidup. Karena aku pernah menderita TB, maka aku akan lebih mudah terserang TB lagi daripada orang yang belum pernah menderita TB. Pengalaman ini membuatku lebih memperhatikan kesehatanku. Bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya, memanglah benar. Selama masa pengobatan ini aku telah menghabiskan uang lebih dari Rp 10 juta. Memang, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Alhamdulillah… satu ujian telah berlalu… Aku percaya setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan faktor utama penentu kesembuhan adalah faktor spiritual dan keyakinan untuk sembuh.

Tags:

7 May 2008

Takut Menjadi Istri

Aku punya seorang teman akhwat, yang selama ini ia selalu merasa takut untuk menikah. Satu-satunya alasan kenapa ia takut menikah adalah karena ia takut menjadi istri.

Ketika aku bertanya, mengapa ia takut menjadi istri, ia pun dengan lancar menyebutkan belasan alasan:

  • istri harus patuh terhadap suami
  • istri harus menurut semua keinginan suami
  • jika suami minta istri melayaninya, istri harus memenuhinya saat itu juga
  • jika suami minta istri tidak bekerja, istri harus nurut
  • jika suami minta istri tidak boleh keluar rumah, istri harus nurut
  • jika suami beda pendapat dengan istri, istri harus mengalah
  • jika suami salah, maka istri tidak berhak menyalahkan suami
  • dan seabreg alasan lainnya.

Mungkin inilah akibat pemahaman terhadap Islam yang dangkal.

Sungguh, Islam tidak memperbudak perempuan, justru Islam sangat memuliakan perempuan. Memang seorang istri wajib mematuhi suaminya selama tidak melanggar larangan-Nya, tapi bukan berarti seorang istri meng-hamba pada suaminya.

Islam mengajarkan syura’ atau musyawarah dalam kehidupan, termasuk kehidupan suami istri. Suami tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada istri. Suami tidak berhak memvonis istri, harus ini atau harus itu.

Bahkan, jika seorang suami memaksakan kehendaknya kepada istrinya, sehingga istri merasa tersakiti baik hati dan fisiknya, maka istri berhak mengadukan ke pengadilan. Dan jika pengaduannya diterima, maka jatuhlah talak satu kepadanya.

Menikah, bukanlah membuat diri menderita, namun membuat hati merasa lebih tenteram.

Tags: , ,

5 May 2008

New Life

Mulai bulan Mei 2008 ini, aku resmi keluar dari ComLabs ITB. Bukan karena penghasilanku kecil, penghasilanku dari bekerja di sini lebih dari cukup, bahkan pernah melebihi penghasilan suamiku. Aku keluar atas keinginanku sendiri, bukan karena pengaruh pihak lain, bukan pula karena ‘diberhentikan’ seperti yang dialami beberapa rekanku.

Sesungguhnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi karyawan. Pengalaman Kerja Praktek di sebuah perusahaan besar di Jakarta tingkat 3 dahulu, telah membuatku bertekad tidak ingin menjadi karyawan, apalagi di sebuah perusahaan besar.

Lulus kuliah tahun kemarin, banyak tawaran kerja masuk ke emailku maupun telepon. Maklum, namanya juga fresh graduated Teknik Informatika ITB, begitu lulus banyak tawaran. Bukan tawaran kerja, tapi tawaran untuk mengikuti tes kerja di perusahaan mereka. Halah! Tak satu pun kugubris.

Desember kemarin aku ditawari untuk bekerja di ComLabs ITB. Sebelumnya selama 5 tahun ini aku memang aktif di ComLabs, dari menjadi asisten workshop mahasiswa baru, menjadi asisten pelatihan, sampai menjadi Instruktur Master yang memiliki jam terbang mengajar lebih dari 200 jam (tepatnya aku lupa :D). Dengan senang hati tawaran tersebut aku terima. Ah, menyalahi cita-cita awalku.

Awalnya aku merasa enjoy, tapi sebulan berlalu aku mulai merasa jenuh. Aku sangat diatur waktu, aku tidak bebas melakukan aktivitasku sendiri. Padahal aku punya hobby, harapan, dan cita-cita yang ingin aku wujudkan. Di sini aku merasa kering ruhiyah, amalan yaumi pun menurun. Setelah berkonsultasi dengan suamiku, akhirnya aku mantap untuk keluar setelah masa kontrakku berakhir.

Mei ini masa kontrakku berakhir. Sempat sedih juga keluar dari ComLabs, meninggalkan apa yang telah menjadi komunitasku selama ini. Tapi aku telah bertekad “Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah“. Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka berserahdirilah kepada Allah. Maka, aku pun mantap keluar dari pekerjaanku ini.

Aku mantap meninggalkan semua jabatan yang diberikan padaku, Ketua Tim Bidang Kompetensi Webmaster, Instruktur Master dengan jam terbang mengajar tertinggi, dan lainnya. Oya, meski sejak 2 bulan lalu aku sudah merasa jenuh bekerja, bukan berarti kinerjaku mengecewakan. Kinerjaku malah bisa dikatakan paling tinggi dibanding teman-temanku, dan selama bekerja di sini aku paling disiplin, tidak pernah satu kali pun datang terlambat.

Kini saatnya menyongsong hidup baru yang lebih cerah, saatnya mengisi waktu dengan hobby dan kegemaranku, saatnya mengejar impianku, saatnya meraih harapanku, saatnya mewujudkan cita-citaku. Ya, aku yang mengatur waktuku, bukan waktu yang mengatur aku!

# Postingan ini juga menegaskan bahwa aku tidak lagi bertanggung jawab terhadap pelatihan-pelatihan FWD, FWP/WPP, IWP, WDC, IWLN, IWDC, IWDV, ataupun lainnya.

Tags:

27 April 2008

Keliling Bandung dengan Angkot

Pernahkah anda melakukan suatu aktivitas yang menurut sebagian orang bisa dikatakan kurang kerjaan, buang-buang waktu, atau buang-buang uang, namun menurut anda aktivitas tersebut justru menyenangkan dan menantang?

Akhirnya, di sore hari itu aku berhasil mengajak suamiku berkelana naik angkot selama hampir 3 jam. Dari Dago ke Riung Bandung, beli bakso, kemudian kembali lagi ke Dago. Naik angkot sejauh 15 km (pergi-pulang) hanya untuk membeli dua mangkok bakso seharga Rp 5000.

Awalnya, sore itu kami bermaksud mencari makan di Simpang Dago. Bosan dengan aneka makanan di Simpang Dago, aku mengajak suamiku mencari makan di tempat lain. Akhirnya kami naik angkot Dago-Riung Bandung, sambil tengok kanan-kiri di sepanjang perjalanan, siapa tahu melihat warung makan yang menarik.

Dipati Ukur, Gasibu, Diponegoro, Citarum, Riau, Kosambi, Cicadas, Binong, terlewati sudah. Sampai ke jalan Soekarno-Hatta, lalu angkotnya muter, belok ke Cipamokalan, dan akhirnya masuk ke Perumahan Riung Bandung. Angkot melewati kompleks perumahan.

Akhirnya kami turun di kompleks perumahan, karena takut kalau ditanya sopirnya “turun di mana?” Kami makan di warung Bakso yang kami jumpai di kompleks perumahan tersebut. Setelah selesai makan, kami pun kembali naik angkot ke Dago, dengan sebelumnya memastikan bahwa kami tidak naik angkot yang sama dengan waktu berangkat tadi.

Dulu sebelum menikah, aku sering melakukan hal ini. Beberapa angkot yang pernah aku coba antara lain:

  • Angkot Cicaheum-Cibaduyut, sampai ke poll angkot di Cibaduyut.
  • Angkot Sadang Serang-Caringin, sampai ke Caringin (Kopo).
  • Angkot Dipati Ukur-Panghegar Permai, ternyata ga sampai Panghegar Permai, angkotnya muter di jalan.
  • Angkot Sadang Serang-Gede Bage, cuma sampai Ujung Berung.

Bukan kurang kerjaan lho ya… Meskipun naik angkot tanpa tempat tujuan pasti, perjalanannya itu yang aku nikmati. Bisa mengetahui kehidupan kota Bandung, kalau dipikir-pikir sampai sekarang lebih banyak daerah yang belum aku kutahui daripada yang sudah aku ketahui. Dan naik angkot ini cukup aman, karena biarpun tersesat pasti dapat kembali lagi (dengan naik angkot yang sama).

Tags:

24 April 2008

MQ 102.7 FM

Aku mengenal stasiun radio ini sejak duduk di tingkat 1. Waktu itu masih bernama Radio Ummat di frekeunsi 1026.5 AM. Awalnya, waktu itu di bulan Ramadhan setiap waktu sahur aku selalu mendengar siaran radio ini dari tetangga kamarku. Mendengarnya, rasanya enak banget, karena baru waktu itulah aku mengenal siaran radio yang benar-benar Islami.

Ketika aku mudik ke Yogya, aku meminta pada orang tuaku, supaya salah satu radio di Yogya boleh kubawa ke Bandung. Orang tuaku menolak, dengan alasan radionya berat, aku pasti kerepotan membawanya naik kereta sendirian dari Yogya ke Bandung. Akhirnya aku kembali ke Bandung dengan rasa sedih.

Beberapa hari setelah aku tiba di Bandung, ada kiriman paket dari Yogya. Alhamdulillah, aku dikirimi radio dari Yogya. Sebuah radio dengan merek National (sekarang masih ada ga ya?) yang bahkan usia radio ini lebih tua daripada usiaku. Ya, di rumah kami di Yogya memang ada banyak radio, kata orang tuaku belinya pas tahun 1970-an dulu.

Biarpun radio jadul (jaman dulu), tapi tetep saja bisa dipakai. Mulai saat itulah aku menjadi pendengar setia Radio Ummat. Dan akhirnya, pada bulan Agustus 2001 (kalau ga salah), muncul stasiun radio baru sebagai ‘anak’ dari Radio Ummat, yaitu radio MQFM di frekuensi 102.65 FM. Sejak saat itu aku beralih menjadi pendengar setia radio MQFM, yang sekarang frekuensinya berubah menjadi 102.7 FM.

Banyak manfaat yang aku dapat dari radio ini. Pengajian dari DT setiap pagi, taushiyah-taushiyah yang sering disampaikan penyiarnya, juga bisa mengetahui perkembangan nasyid-nasyid baru.

Ok, berikut aku tuliskan jadwal acara di radio MQFM ini.

04.00 - 05.00
Murrotal menjelang Subuh, azan Subuh, Al Ma’tsurat
05.00 - 06.00
MQ Pagi: pengajian langsung dari masjid DT
06.00 - 06.30
Tahajjud Call on Air: media komunikasi anggota Keluarga Insan Tahajud Call Indonesia
06.30 - 09.00
Inspirasi Pagi: menghadirkan rangkaian informasi aktual dan satu tema yang dibahas secara ringan dan menyenangkan
09.00 - 10.00
Ensiquest (Ensiklopedi by request)
10.00 - 12.00
Share and Care: ruang konsultasi berbagai persoalan keluarga bersama dengan narasumber yang kompeten di bidangnya
12.00 - 13.00
Azan Dhuhur
13.00 - 15.00
Senandung Qita
15.00 - 16.00
Azan Asar, Al Ma’tsurat
16.00 - 17.30
Oase Iman:
- Senin: Kajian Tafsir Tematik
- Selasa: Kajian Akhlaq
- Rabu: Islam dan Kehidupan
- Kamis: Kajian Hadits
- Jumat: Kajian Aqidah
- Sabtu: Kajian Fiqh
17.30 - 18.30
Menjelang Maghrib, azan Maghrib
18.30 - isya’
Q on Air: ruang belajar Al Quran dengan metode Tahsin
19.30 - 21.00
Bincang malam
- Senin: Bincang pencerahan bersama Mas Andri Maadsa
- Selasa: Bincang Al Quran dan sains bersama LPP Salman ITB
- Rabu: Bincang Bisnis bersama Dr .Ir. Budi Djatmico, M.Si. owner Bandung Bussines School
- Kamis: Pengajian Asmaul Husna
- Jumat: Jendela keluarga bersama Ust. Budi Prayitno
- Sabtu: Curhat Remaja bersama Ust. Darlis Fajar
- Ahad: Lentera Hikmah
21.00 - 24.00
Nuansa malam: ruang untuk berbagi cerita kehidupan sahabat MQ

Tags:

23 April 2008

Majalah-majalah yang Mendewasakanku

Selain suka membaca buku, aku juga suka membaca majalah. Koleksi majalahku kurang lebih sama dengan koleksi bukuku, sekitar 200 buah (dulu sih lebih banyak, tapi kebanyakan udah aku berikan ke orang lain, karena menuh-menuhin rak bukuku). Aku tidak pernah langganan majalah, jadi majalah-majalah tersebut aku peroleh dengan membeli secara eceran, baik majalah baru maupun bekas.

Berikut majalah-majalah yang ada di rak bukuku:

Ummi
Majalah favoritku. Aku memiliki koleksinya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi). Majalah ini cocok untuk wanita dewasa atau ibu-ibu, tapi laki-laki juga boleh baca, terbukti suamiku suka membaca majalah ini. Rubrik-rubrik yang ada seperti : Mutiara Dakwah, Kolom Ayah, Sirah Shahabiyah, Kesehatan Keluarga, Pangan Halal, Psikologi Anak, Mar’ah Shalihah, Konsultasi ASI, dsb. Cocok lah buat calon ibu seperti aku ^_^

Tarbawi
Bahasannya ringan. Enak dibaca karena banyak hikmah dan kisah-kisah yang dapat diambil pelajaran. Koleksi yang aku punya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi).

Annida
Majalah remaja. Dulu aku sering beli, sekarang udah jarang. Segmennya remaja SMP-SMA-kuliah.

Karima
Majalah remaja juga. Bahasanya enak banget (lebih enak daripada Annida). Tapi sayang, majalah ini sudah tidak terbit lagi. Terakhir terbit tahun 2002 lalu.

Auladi
Majalah buat orang tua, terutama yang memiliki anak kecil. Bahasanya enak, dan muraaah… cuma Rp 3.000.

Nikah
Majalah buat pasangan yang akan menikah ataupun setelah menikah. Menurutku bahasanya terlalu ‘kaku’. Ga pernah beli lagi.

Anggun
Majalah pra nikah, banyak nampilin mode-mode baju pengantin. Sayangnya… banyak tabarujnya.

Sabili
Lebih ke arah politik dan dakwah. Menurutku bahasanya agak ‘keras’.

Saksi
Sama seperti Sabili. Tapi bahasanya lebih enak.

Al Izzah
Majalah favoritku jaman dulu, sekarang nyari-nyari kok ga pernah nemu ya?

Percikan Iman
Majalahnya Pak Aam. Dulu sempat jadi majalah favorit, sekarang ga lagi.

Entrepreneur Indonesia, Pengusaha, Bisniskita, Mix
Dulu sering beli majalah-majalah ini, waktu aku terkena virus entrepreneur.

PC Media, PC Plus, dan majalah-majalah komputer lainnya
Dulu sering beli, sekarang ga pernah. Selain mahal, lebih enak browsing-browsing aja untuk mendapatkan info terbaru di dunia IT.

Tabloid Nova
Pernah beli, lumayan ada rubrik yang bagus. Tapi kebanyakan gosipnya.

Tabloid Nakita
Tabloid untuk para ibu, ada rubrik Menyambut si Kecil, Dunia Bayi, Dunia Batita, Dunia Prasekolah, Kesehatan, Problema Suami Istri, dll. Dan enaknya kita bisa download semua artikel dari edisi 1 sampai sekarang (463) di http://tabloid-nakita.com. Aku juga hobi download nih, tapi baru sampai edisi 15 yang aku download.

Di antara majalah-majalah (atau tabloid) di atas, hanya ada dua yang aku buat indeks artikelnya, yaitu majalah Ummi dan tabloid Nakita. Aku catat judul tiap rubrik untuk setiap edisi. Sehingga jika aku membutuhkannya, tinggal aku search, dan aku pun mudah menemukannya.

Tags: ,

22 April 2008

Pre Marital Check Up

Dulu sebelum menikah, aku bertanya pada teman-temanku yang telah menikah, apakah mereka melakukan tes kesehatan sebelum menikah? Hampir semua menjawab tidak.

Pre Marital Check Up atau cek kesehatan sebelum menikah, sepertinya masih kurang familiar dilakukan masyarakat di Indonesia. Padahal katanya di negara-negara barat sana, jangankan Pre Marital Check Up, General Check Up (cek kesehatan umum) wajib dilakukan setiap tahun untuk warga negaranya.

Dulu aku memang termasuk orang yang tak begitu peduli akan kesehatan. Tapi setelah aku jatuh sakit tahun lalu, aku jadi sangat peduli akan kesehatan. Itulah yang menyebabkanku harus mengikuti Pre Marital Check Up sebelum menikah.

Biaya Pre Marital Check Up ini bermacam-macam, kalau ingin yang murah bisa coba ke Rumah Sakit, di sana biaya berkisar mulai Rp 200 ribu. Kalau aku mengambil tes ini di Prodia, selain karena sudah langganan, aku suka dengan pelayanan dan suasana di Prodia yang kondusif.

Di Prodia, aku mengambil paket standard seharga Rp 875 ribu untuk wanita. Ada lagi paket plus yang biayanya mencapai di atas Rp 1.5 juta. Untuk wanita memang biayanya lebih mahal dua kali lipat daripada pria, karena bagian yang diperiksa lebih banyak daripada pria.

Dengan biaya Rp 875 ribu ini aku mendapat pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan dokter
  • Hematologi rutin
  • Golongan darah
  • Rhesus faktor
  • Gambaran darah tepi
  • Hb Elektroforesis
  • Glukosa Puasa
  • Glukosa puasa (urine)
  • Glukosa 2 jam PP
  • Glukosa 2 jam PP (urine)
  • Anti-HBs
  • Anti-Toxoplasma IgG
  • Anti-Rubella IgG
  • Anti-CMV IgG
  • VDRL
  • Urine rutin

Aku datang ke Prodia dalam keadaan berpuasa 10 jam sebelumnya (minum air putih masih diperbolehkan). Selanjutnya darahku diambil sebanyak 4 tabung dan aku diminta memberikan sampel urin. Setelah itu aku disuruh makan pagi. Kemudian 2 jam setelah makan, darahku kembali diambil 1 tabung dan aku memberikan sampel urin lagi.

Sore harinya hasil pemeriksaanku sudah bisa diambil, dan aku mendapat fasilitas untuk berkonsultasi dengan dokter di Prodia ini. Alhamdulillah, hasilnya cukup baik. Tidak ada penyakit berbahaya yang berhubungan dengan gen dan keturunan yang aku idap.

Seyogyanya Pre Marital Check Up ini dilakukan 6 bulan sebelum menikah, tapi aku baru melakukannya 3 minggu sebelum menikah, ya… masih baik daripada aku tidak melakukannya sama sekali. Enam bulan sebelum nikah mah aku belum ketemu jodoh dan belum berpikiran akan menikah :)

Kenapa sih aku harus bayar mahal untuk mengikuti Pre Marital Check Up ini? Ya… karena kesehatan itu memang mahal harganya. Lebih baik kita mengetahui penyakit kita dari awal, daripada tahu belakangan ketika sudah parah bukan? Kalau hasil tes ini baik, alhamdulillah. Kalau hasilnya kurang baik, bisa segera diobati sejak dini.

Tags: , , ,